Mixed Flavor Challenges

April 5th, 2013

MIXED FLAVOR CHALLENGES 

 

(Foodreview Indonesia/Vol VIII/No. 2/Februari 2013)

Kata ‘Mixed flavor’ dapat memberi banyak makna dan intepretasi. Di sisi lain, dari segi teknisnya pecampuran apa pun tentu bukanlah hal yang mudah mengingat bahan yang di campur memiliki karakteristik masing-masing yang seringkali sulit dipadukan. Ulasan kali ini akan mencoba melihatnya dari segi peluang, kendala dan tantangan yang mungkin dihadapi pada saat pembuatan, penyimpanan serta aplikasi ‘mixed flavor’ dalam produk pangan.

Apa yang dimaksud dengan ‘mixed flavor’? Hasil penyisiran literatur belum dapat menghadirkan definisi resmi ‘mixed flavor’ nampaknya kata ‘mixed flavor’ belum menjadi kata atau istilah baku dalam dunia flavor. Beberapa istilah serupa dapat di jumpai dalam literatur, antara lain: ‘combining flavor’,’blended flavor’,’compouned flavor’,’homogenized flavor’.

‘Mixed flavor’ atau bila di tulis dalam bahasa Indonesia adalah flavor campuran, dapat berarti flavor campuran dari dua atau lebih aksen flavor bahan pangan tertentu, seperti halnya pada minuman sari buah dapat berupa campuran flavor mangga dan apel atau mixed barries misalnya. Pada produk teh, sejak zaman dulu telah dikenal teh dengan aroma bunga melati (jasmine tea) atau teh dengan aroma mint (peppermint tea). Dewasa ini perpaduan minuman teh dengan flavor buah-buahan juga semakin populer di Indonesia.

 INTERNATIONAL CONFERENCE FUTURE FOOD FACTORS

 

(Foodreview Indonesia/Vol VII/No. 12/Desember 2012)

Bertepatan dengan Pameran Food Ingredients Asia di Jakarta International Expo, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) bekerja sama dengan SEAFAST Center serta Departemen Ilmu Teknologi Pangan IPB menyelenggarakan International Conference bertajuk Future of Food Factors pada 3-4 Oktober lalu. Menurut ketua umum PATPI periode 2010-2012. Dr. Dahrul Syah, tujuannya diadakan seminar bersamaan dengan FIA adalah untuk memberikan kesempatan kepada para akademisi dan peneliti untuk mengamati secara langsung perkembangan inovasi produk dan bisnis yang terjadi dalam industri. “Sehingga diharapkan terjadi sinergisme mutualisme antara peneliti dan industri”, tutur Dahrul. Sementara itu, kepala badan POM RI Dra. Lucky S. Slamet ,Apt. MSc., yang hadir sebagai key note speaker mengajak para ahli teknologi pangan untuk turut serta mendukung tercapainya keamanan pangan di Indonesia.

“DUNIA” FLAVOR DEWASA INI DAN PEMILIHAN FLAVOR UNTUK PRODUK MINUMAN

 

(Foodreview Indonesia/Vol VI/No. 5/Mei 2011)

Pengembangan flavor masih mewarnai tantangan pengembangan produk pangan dewasa ini. Keinginan konsumen yang masih mengedepankan kenyamanan cita-rasa di antara atribut pangan yang lain menuntut produsen pangan terus berkreasi memperoleh cita rasa yang unggul.

Tidak mengherankan bila flavor masih menjadi primadona perdagangan ingridien pangan dewasa ini. Pengamatan secara awam menunjukkan bahwa selain flavor house multinasional yang sudah dikenal mapan selama ini, nampak pula kemunculan “pemain-pemain baru” terutama dari China walau baru sebatas sebagai agensi.

PENDIDIKAN HARUS DITINGKATKAN

 

(Salam Papua/Kamis/31 Agustus 2012)

Masyarakat Papua dan Papua Barat harus mempunyai komitmen tinggi dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tekad dan kesadaran dari setiap warga atau keluarga itu penting sehingga Papua secara umum tidak dicitrakan hanya menuntut tanpa berusaha. Berbagai pihak eksternal menjadi pendukung dalam hal pendanaan, perbaikan gizi dan sarana lainnya.

Berbagai potensi sumber daya lokal diharapkan menjadi pendorong kemajuan pendidikan sebagai solusi ketertinggalan Papua. Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hanny Wijaya serta praktisi pertambangan dan pemberdayaan masyarakat Jeffrey Mulyono dalam diskusi Forum Pemerhati Pembangunan Papua Tengah (FPPPT), Kamis (30/8), di Timika, Papua.

Read More

PENDIDIKAN MULAI DARI DIRI SENDIRI

 

(Salam Papua/Kamis/30 Agustus 2012)

Pendidikan di Papua tidak akan berubah kea rah yang lebih baik jika semua pihak terkait dengan pendidikan dapat memperbaiki pendekatan pendidikan mulai dari diri sendiri. Warga Papua Tengah harus memiliki komitmen untuk memperbaiki itu mulai datang dari keluarga dan diri sendiri.

Hal tersebut diutarakan pemerhati pendidikan yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. C Hanny Wijaya saat di temui Salam Papua di Graha Erne Neme, Rabu (29/8). Prof. Hanny mengatakan tingkat pendidikan di Papua dalam taraf menyedihkan dibandingkan pendidikan di beberapa daerah di Indonesia. Padahal pendidikan di Indonesia sudah sangat terpuruk dibandingkan Negara-negara lain di dunia.

Read More