“DUNIA” FLAVOR DEWASA INI DAN PEMILIHAN FLAVOR UNTUK PRODUK MINUMAN

 

(Foodreview Indonesia/Vol VI/No. 5/Mei 2011)

Pengembangan flavor masih mewarnai tantangan pengembangan produk pangan dewasa ini. Keinginan konsumen yang masih mengedepankan kenyamanan cita-rasa di antara atribut pangan yang lain menuntut produsen pangan terus berkreasi memperoleh cita rasa yang unggul.

Tidak mengherankan bila flavor masih menjadi primadona perdagangan ingridien pangan dewasa ini. Pengamatan secara awam menunjukkan bahwa selain flavor house multinasional yang sudah dikenal mapan selama ini, nampak pula kemunculan “pemain-pemain baru” terutama dari China walau baru sebatas sebagai agensi.

PENDIDIKAN HARUS DITINGKATKAN

 

(Salam Papua/Kamis/31 Agustus 2012)

Masyarakat Papua dan Papua Barat harus mempunyai komitmen tinggi dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tekad dan kesadaran dari setiap warga atau keluarga itu penting sehingga Papua secara umum tidak dicitrakan hanya menuntut tanpa berusaha. Berbagai pihak eksternal menjadi pendukung dalam hal pendanaan, perbaikan gizi dan sarana lainnya.

Berbagai potensi sumber daya lokal diharapkan menjadi pendorong kemajuan pendidikan sebagai solusi ketertinggalan Papua. Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hanny Wijaya serta praktisi pertambangan dan pemberdayaan masyarakat Jeffrey Mulyono dalam diskusi Forum Pemerhati Pembangunan Papua Tengah (FPPPT), Kamis (30/8), di Timika, Papua.

Read More

PENDIDIKAN MULAI DARI DIRI SENDIRI

 

(Salam Papua/Kamis/30 Agustus 2012)

Pendidikan di Papua tidak akan berubah kea rah yang lebih baik jika semua pihak terkait dengan pendidikan dapat memperbaiki pendekatan pendidikan mulai dari diri sendiri. Warga Papua Tengah harus memiliki komitmen untuk memperbaiki itu mulai datang dari keluarga dan diri sendiri.

Hal tersebut diutarakan pemerhati pendidikan yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. C Hanny Wijaya saat di temui Salam Papua di Graha Erne Neme, Rabu (29/8). Prof. Hanny mengatakan tingkat pendidikan di Papua dalam taraf menyedihkan dibandingkan pendidikan di beberapa daerah di Indonesia. Padahal pendidikan di Indonesia sudah sangat terpuruk dibandingkan Negara-negara lain di dunia.

Read More

THE UTILIZATION OF OVERRIPE TEMPE (TEMPE SEMANGIT) AS INDIGENOUS CONDIMENT

 

M. D. P. T. Gunawan-Puteri1, C. Hanny Wijaya2, A. N. Mutukumira3

Abstrak

Abstract. Tempe and other soy-derived products are historically and currently some of the most important foods in the Asian region where diets remain predominantly plant-based. Tempe is a major fermented food in Indonesia that is known for its high nutrients and superior digestibility. Recent studies evaluated tempe as a high source of active peptides, isoflavone, and other bioactive compounds. Tempe consumption has shown cardio-protective effect and has also been reported for its contents of dietary free radicals and substances that counteract diarrhea, thus improving its role in food safety. Overripe tempe (tempe semangit and tempe bosok) is a term used for over-fermented tempe with pungent odour and darkening appearance commonly used in Javanese cuisine. Unique taste and odour of overripe tempe lead to the exploration of its potencies as condiment which may add the nutritional, safety and economic values of tempe. This paper discusses the beneficial effects of tempe and explores the potencies of tempe semangit as condiment.

MANGULU, PANGAN LOKAL BERKALORI TINGGI YANG KAYA SERAT ALAMI

 

Yunita Siti Mardhiyyah dan C. Hanny Wijaya

(Pangan Media Komunikasi dan Informasi/Vol 21/No 3/September 2012)

Abstrak 

Diversifikasi pangan menjadi hal yang penting dalam mencapai ketahanan pangan. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah pemanfaatan pangan lokal. Manggulu merupakan sejenis dodol yang dibuat dari pisang kepok dan kacang tanah, suatu pangan khas dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pisang kepok(Musa paradisiaca L.)masak pohon dikeringkan sehingga berwarna kecoklatan, dikukus dan dihaluskan. Kacang tanah digoreng dan dihaluskan. Kedua bahan ini dicampur, kemudian dibentuk silinder dan dibungkus dengan daun pisang kering. Berdasarkan perhitungan kadar gizi  bahan bakunya, manggulu dengan berat 30 g memiliki nilai kalori 147,6 kkal sehingga dapat dikategorikan sebagai pangan berkalori tinggi. Kandungan serat manggulu sebesar 2,2 g/30 g memenuhi aturan Codex alimentarius sebagai produk pangan yang baik untuk sumber serat dan dapat diarahkan sebagai pangan fungsional. Manggulu dibuat dari bahan alami dan dapat dikategorikan sebagai pangan alami atau natural food menurut Canadian Food Inspection. Manggulu juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan darurat.Eksplorasi dan dokumentasi pangan lokal diharapkan melestarikan kearifan lokal dan menunjang upaya diversifikasi pangan.

 

Kata kunci: manggulu, Sumba-NTT, kacang tanah, pisang kepok, kalori tinggi, serat tinggi