THE UTILIZATION OF OVERRIPE TEMPE (TEMPE SEMANGIT) AS INDIGENOUS CONDIMENT

 

M. D. P. T. Gunawan-Puteri1, C. Hanny Wijaya2, A. N. Mutukumira3

Abstrak

Abstract. Tempe and other soy-derived products are historically and currently some of the most important foods in the Asian region where diets remain predominantly plant-based. Tempe is a major fermented food in Indonesia that is known for its high nutrients and superior digestibility. Recent studies evaluated tempe as a high source of active peptides, isoflavone, and other bioactive compounds. Tempe consumption has shown cardio-protective effect and has also been reported for its contents of dietary free radicals and substances that counteract diarrhea, thus improving its role in food safety. Overripe tempe (tempe semangit and tempe bosok) is a term used for over-fermented tempe with pungent odour and darkening appearance commonly used in Javanese cuisine. Unique taste and odour of overripe tempe lead to the exploration of its potencies as condiment which may add the nutritional, safety and economic values of tempe. This paper discusses the beneficial effects of tempe and explores the potencies of tempe semangit as condiment.

MANGULU, PANGAN LOKAL BERKALORI TINGGI YANG KAYA SERAT ALAMI

 

Yunita Siti Mardhiyyah dan C. Hanny Wijaya

(Pangan Media Komunikasi dan Informasi/Vol 21/No 3/September 2012)

Abstrak 

Diversifikasi pangan menjadi hal yang penting dalam mencapai ketahanan pangan. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah pemanfaatan pangan lokal. Manggulu merupakan sejenis dodol yang dibuat dari pisang kepok dan kacang tanah, suatu pangan khas dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pisang kepok(Musa paradisiaca L.)masak pohon dikeringkan sehingga berwarna kecoklatan, dikukus dan dihaluskan. Kacang tanah digoreng dan dihaluskan. Kedua bahan ini dicampur, kemudian dibentuk silinder dan dibungkus dengan daun pisang kering. Berdasarkan perhitungan kadar gizi  bahan bakunya, manggulu dengan berat 30 g memiliki nilai kalori 147,6 kkal sehingga dapat dikategorikan sebagai pangan berkalori tinggi. Kandungan serat manggulu sebesar 2,2 g/30 g memenuhi aturan Codex alimentarius sebagai produk pangan yang baik untuk sumber serat dan dapat diarahkan sebagai pangan fungsional. Manggulu dibuat dari bahan alami dan dapat dikategorikan sebagai pangan alami atau natural food menurut Canadian Food Inspection. Manggulu juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan darurat.Eksplorasi dan dokumentasi pangan lokal diharapkan melestarikan kearifan lokal dan menunjang upaya diversifikasi pangan.

 

Kata kunci: manggulu, Sumba-NTT, kacang tanah, pisang kepok, kalori tinggi, serat tinggi